Jumat, 20 Juni 2008

Foreplay Sebelum Penetrasi ala Lianny




Simaklah pengalaman Ira yang dituturkan saat istirahat makan siang di kantornya. Malam itu Ira hanya melulurkan balsem sambil memijat lembut tubuh sang suami yang pegal-pegal. Beberapa menit kemudian mereka sudah seru bergumul mesra diakhiri orgasme sangat dalam dan membahagiakan.

Pijat, menurut Lianny Hendranata, pengarang buku Seksualitas, Tombol Menuju Kebahagiaan, adalah obat mujarab untuk menghilangkan penyakit jenuh dan kehilangan gairah seks dalam rumah tangga. “Kenapa tidak menggunakan pijat sebagai sarana rileksasi sekaligus rekreasi bagi jiwa suami istri,” tutur ahli terapi aura ini.

Pijatan yang dimaksud olehnya dilakukan bersama pasangan dengan atau tanpa maksud untuk melakukan hubungan intim. “Hasil survei pada banyak pasangan, saling pijat itu hampir selalu berakhir dengan hubungan suami istri yang terasa lebih mesra dan hampir dipastikan mencapai orgasme bersama,” katanya, dengan senyum penuh arti.

Wajar jika terjadi orgasme dalam hubungan seks yang berawal dari pijat tersebut. Sebab, pijatan lembut penuh kasih sayang itu meletupkan dan memijarkan energi kasih suami istri, sehingga menghasilkan kemesraan. “Akan berakhir dengan perasaan bahagia,” ujarnya.

Kesempatan pijat itu adalah waktu bagi suami istri untuk saling mengenal dan menghargai setiap jengkal tubuh pasangan. Juga untuk mengenali daerah erotis masing-masing. “Dibutuhkan partisipasi bersama agar bersama mencapai klimaks.

Suami istri sebaiknya bersikap saling responsif. Tak harus ada jeritan atau erangan dalam berhubungan seks, tetapi sikap pasif dan dingin sebaiknya juga dijauhi,” sebutnya.

Suami istri, terlebih yang sudah lama berumah tangga, sebaiknya tak perlu malu-malu lagi untuk memberitahu pasangannya apa yang diinginkan. “Katakan saja bagian mana yang memberi sensasi menyenangkan dan menimbulkan gairah.

Bila tak suka posisi atau gerakan tertentu, katakan saja terus terang. Hal ini sangat penting untuk selalu diutarakan dua arah, sebab inilah kunci kelanggengan hidup berpasangan,” paparnya.

Namun, yang perlu diingat dalam menyampaikan keinginan kepada pasangan adalah tutur kata manis dan tidak terkesan bossy. Kebiasaan mendikte, apalagi seolah menggurui, harus dibuang jauh-jauh. “Mintalah dengan tulus dan sampaikan dengan lembut manja. Insya Allah kemesraan pasangan suami istri selalu terjaga,” katanya.

Bukan hanya berteori, Liany juga memberikan panduan praktis untuk Anda. Latihan berikut akan memberi kehangatan pada Anda dan pasangan. Yang perlu diingat, jangan fokuskan pada sanggama sebagai dasar tujuan. Nikmati saja saat menerima dan memberi sentuhan lembut serta kala masing-masing bertutur mesra.

1. Mulailah membangun kemesraan dengan memandangi mata pasangan penuh rasa sayang. Lakukan ciuman lembut ke muka pasangan, leher, dan bibir. Embuskan kata-kata cinta yang tulus dan tak dibuat-buat atau berlebihan. Bantulah pasangan untuk merasa dicintai dan dibutuhkan.

2. Raihlah tangannya lalu arahkan ke bagian yang Anda inginkan untuk dia belai. Lakukan hal yang sama padanya. Bukan tangan saja yang bisa digunakan untuk membelai. Gunakan juga lidah untuk menyelusuri bagian-bagian sensitif. Lidah yang basah dan hangat sangat efektif memacu letupan gairah.

3. Berikan porsi waktu yang lebih lama untuk saling memijat, membelai, dan lainnya, sebagai bentuk pemanasan yang efektif untuk rileksasi bagi jiwa Anda dan pasangan. Teruskan rileksasi itu dengan rekreasi jiwa. Caranya, bergerilyalah dalam mencumbu pasangan Anda!

4. Dalam berhubungan intim, sikap egois harus dihilangkan. Jika ingin memperoleh hasil maksimal, Anda juga harus memberi maksimal.

Sumber : Kompas Online

Soal Seks Jangan Tanya Orang Asia Deh !!!




ORGASME adalah salah satu faktor penting dalam menentukan kepuasan suatu hubungan seksual. Bila salah satu di antara pasangan gagal mencapai klimaks, kepuasan seksnya tentu akan berkurang.

Dikaitkan dengan keberhasilan mencapai orgasme, sebuah survei global mengungkapkan bahwa orang Italia dan Spanyol tenyata paling ahli dalam hal ini. Namun, rapor buruk ditunjukkan partisipan-partisipan di Asia yang mencatat kemampuan orgasme paling rendah.

Berdasarkan hasil survey global bertajuk "Durex Sexual Wellbeing", Italia, Spanyol, dan Meksiko menempati posisi teratas dalam persentase mencapai klimaks pada setiap kali berhubungan intim. Para pasangan dari negara itu mengungguli partisipan dari 23 negara lainnya yang dilibatkan dalam survei ini, dengan persentase pencapaian orgasme 66 persen. Sementara itu, Perancis yang dikenal dengan musik dan konser romantisnya hanya mencapai 48 persen dalam survei yang diikuti 26.000 orang tersebut.

Kawasan Asia, diwakili Jepang, China, India dan Hongkong, kemampuan orgasme justru terbilang rendah. Para pasangan di Jepang hanya mencatat 27 persen, India 46 persen dan Singapura 36 persen. Bahkan, China, dikenal sebagai salah satu raksasa bisnis dunia, dan Hongkong justru paling terpuruk dalam hal pencapaian klimaks. Mereka menempati posisi paling buncit dari total 26 negara yang dijadikan sasaran survei.

Menyoal pasangan yang berusaha mencapai klimaks, survei menunjukkan, orang Jepang tercatat paling tidak puas dengan intensitas orgasme, sedangkan orang Meksiko dan Brasil mengaku paling puas. Dalam poling itu juga terungkap, wanita tercatat jarang mencapai klimaks ketimbang pria. Hanya 32 persen wanita yang mengaku mencapai klimaks setiap kali berhubungan intim, sementara pria mencapai 63 persen.

Faktor-faktor yang meningkatkan kepuasan orgasme di antaranya menunda klimaks, foreplay yang lebih lama, serta hubungan emosional yang lebih kuat. Survei juga menemukan bahwa kebanyakan pria lebih suka orgasme bersama pasangannya, sedangkan wanita lebih mudah orgasme melalui masturbasi.

"Jika Anda ingin melakukan orgasme, penting artinya bagi Anda untuk menyerahkan segalanya pada perasaan positif yang pernah Anda alami, " ungkap ahli kesehatan seksual, Kevan Wylie, dalam sebuah pernyataan.


Sumber : Reuters, Kompas online

Ngeseks Sama Robot, Mungkinkah ?




AMSTERDAM - Para ilmuwan dari berbagai belahan dunia dijadwalkan berkumpul dalam sebuah konferensi dunia yanguntuk pertamakalinya membahas kemungkinan hubungan secara pribadi antara manusia dengan robot. Konferensi yang digelar di Universitas Maastricht, Belanda Selatan, pada 12-13 Juni itu bahkan akan mendiskusikan kemungkinan hubungan seksual antara manusia dengan robot dalam beberapa dekade mendatang.

Para ahli dari Austria, Kanada, Belanda, Irlandia, Singapura, AS dan Inggris dijadwalkan hadir untuk menyampaikan sekitar 20 makalah dengan sejumlah topik menarik seperti aspek etis interaksi personal robot dan manusia yang disampaikan oleh Prof.dr. Ronald Arkin dari Georgia Institute of Technology, Atlanta, Amerika Serikat. Selain itu akan disampaikan pula pandangan mengenai berbagai aspek seperti emosi, kepribadian, pendekatan gender, psikologis, sosiologis, dan pendekatan filosofis.

Konferensi tersebut digagas menyusul disertasi doktor bertajuk "Intimate Relationships with Artificial Partners" karya David Levy yang dirampungkan di universitas yang sama pada Oktober 2007 lalu. Edisi komersial disertasi ini, yang berjudul ‘Love and Sex with Robots’ telah terbit tak lama setelah ia memperoleh gelar doktor tersebut . Dalam disertasinya, pecatur berusia 63 tahun itu menyatakan umat manusia akan semakin mengembangkan hubungan personal dengan robot.

Pada hari kedua konferensi bertajuk 1st International Conference On Human-Robot Personal Relatioship tersebut, Levy juga dijadwalkan menyampaikan makalah berjudul The Ethical Treatment of Artificially Conscious Robots.


Sumber : Kompas online, DPA

Ngeseks Bikin Gemuk apa Kurus Sihh ??




SIAPAPUN tentu sepakat bahwa seks adalah sebuah aktivitas yang sangat menyenangkan sekaligus menyehatkan. Telah banyak bukti ilimah dan hasil penelitian yang mengungkap bahwa seks bila dilakukan secara benar dan teratur berfaedah bagi kesehatan, seperti meredakan stres dan membakar kalori atau lemak.

Namun begitu, riset tentang seks tentu takkan pernah berhenti. Para ahli tidak akan pernah puas dan masih ingin terus mengungkap misteri dibalik aktivitas seksual.

Salah satu hipotesa yang muncul dan menarik perhatian ilmuwan adalah pengaruh seks terhadap pengikisan lemak dalam tubuh. Sekelompok peneliti seperti dilaporkan majalah New Scienctist memunculkan sebuah hipotesa bahwa seks membuat seseorang menjadi lebih gemuk ketimbang membuat langsing.

Seperti dipaparkan dalam jurnal Medical Hypotheses, kelompok peneliti dari India dipimpin Ritesh Menezes berargumen bahwa yang menjadi kunci dalam bertambahnya berat ini adalah meningkatnya kadar hormon prolaktin. Hormon prolaktin memang dikenal sebagai zat yang menstimulasi atau merangsang produksi ASI pada wanita dan menimbulkan rasa kasih sayang.

Secara teori, kadar hormon ini dalam darah manusia akan meningkat setelah berhubungan seks, terutama pasca orgasme. Peningkatan prolaktin memang diyakini berkaitan dengan penambahan berat badan pada beberapa spesies, termasuk pada manusia yang menderita hiperprolaktinaemia kronik (tingginya kadar prolaktin ).

Selain itu, ada penelitian di AS yang menunjukkan para ayah yang sedang menunggu kelahiran anaknya cenderung akan mengalami kenaikan berat badan akibat meningkatnya hormon prolaktin.

Dengan mempertimbangkan berbagai observasi ini, Menezes dari Departmen Kedokteran Forensik dan Toksikologi di Kasturba Medical College, Mangalore, India, membuat hipotes bahwa "meningkatnya aktivitas seksual memiliki kemungkinan dijadikan faktor penyebab bertambahnya berat badan".

Pendapat Menezes tersebut mendapat kritik Stuart Brody, ahli dari University of the West of Skotlandia penemu teori meningkatnya hormon prolaktin setelah hubungan seksual. Ia menilai hipotesa Menezes tidak tepat alias salah alamat.

"Memang ada kaitan antara frekuensi berhubungan seksual dengan berat badan seseorang, tetapi pada arah yang berlawanan," ujar Brody.

Brody sebelumnya menggelar riset pada 120 pria dan wanita sehat. Ia menemukan bahwa mereka yang sering ngeseks seringkali lebih lansing dibanding yang jarang.

Dalam pandangan Brody, sungguh tidak tepat untuk membandingkan kondisi medis seperti hiperprolaktinaemia dengan meningkatnya hormon secara normal dalam jangka pendek.

"Sebagai analogi, ketika Anda berolahraga, rata-rata detak jantung Anda akan meningkat katakanlah 140 bit per menit. Ini baik. Jika rata-rata jantung Anda saat istirahat sudah mencapai 140 bpm, itu tampaknya bukan hal yang baik. Demikian pula, berbicara tentang olahraga, jangan lupakan nilai olahraga dari sebuah aktivitas hubungan seks," ujarnya

Jadi, apakah seks memang dapat dijadikan cara aman untuk menurunkan berat badan seperti yang diklaim sebagian orang? Atau terlalu sering melakukannya justru akan membuat kadar prolaktin tetap tinggi sehingga akan menambah berat badan? Kita tunggu saja hasil penelitian-penelitian lainnya.


Sumber : Kompas online, NewScientist